REDD

PENGURANGAN EMISI DARI DEFORESTASI DAN DEGRADASI
(REDUCING EMISSIONS FROM DEFORESTATION AND DEGRADATION)

Suatu upaya untuk mengatasi masalah perubahan iklim, hal ini karena semua negara yang sudah meratifikasi kesepakatan kerangka kerja perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai perubahan iklim.  Pengaruh deforestasi terhadap meningkatnya gas rumah kaca (GHGs) di atmosfir sudah sejak lama diketahui namun baru pada COP-12 di Montreal tahun 2005 masuk dalam agenda pembahasan di Konvensi Perubahan Iklim (UNFCCC).  Dan isu ini baru mendapatkan perhatian serius dari masyarakat internasional setelah terbitnya hasil review yang dilakukan oleh Nicholas Stern (UK) tentang Ekonomi Perubahan Iklim (Stern Review : The Economics of Climate Change) yang mencatat bahwa deforestasi di negara berkembang menyumbang emisi CO2 sekitar 20 % dari emisi global, sementara carbon yang saat ini tersimpan di ekosistem hutan  (~ 4500 Gt CO2 lebih besar dari yang tersimpan di atmosfir (3000 Gt CO2).  Oleh karenanya diperlukan dukungan internasional untuk melindungi hutan yang masih ada.

Dampak perubahan iklim  akan dirasakan oleh semua negara, tetapi negara-negara miskin akan menerima dampak terbesar meskipun kontribusinya terhadap emisi GHGs paling kecil.  Dan negara berkembang dengan sumberdayanya sendiri  tidak akan mampu  melakukan mitigasi dan beradaptasi terhadap perubahan iklim. Peran hutan dalam stabilisasi iklim dan sebagai system penyangga kehidupan belum memperoleh penilaian yang memadai dari sisi financial baik di dalam mekanisme yang tersedia di bawah konvensi perubahan iklim maupun dalam system pasar terhadap produk dan jasa hutan. A/R CDM yang merupakan satu-satunya mekanisme pasar yang tersedia di bawah Kyoto Protokol terhadap jasa penyimpana CO2 melalui kegiatan penanaman pohon tidak memberikan manfaat yang berarti karena prosedur dan aspek metodologi yang kompleks. Continue reading

MACAM-MACAM METODE PENELITIAN

  1. 1.      Metode Survey
    1. Demographic Survey Research In Irian Jaya: Population Dynamics In The Teminabuan Area Of The Bird’s Head Peninsula Of Irian Jaya, Indonesia (Penelitian Survei Demtograft di Irian Jaya. Dinamika Penduduk Temibuan, Semenanjung Doberai, Irian Jaya, Indonesia).
    2. Fasilitas Jamban Keluarga dan Pengelolaan Air Limbah di Kelurahan Barombong Kecamatan Tamalate tahun 2009.
  2. 2.      Metode Eksperimen
    1. PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN GROUP INVESTIGATION UNTUKMENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI (TIK) (Suatu Studi Kuasi Eksperimen Terhadap Siswa Kelas VIII MTs N Arjawinangun, Cirebon) Oleh: Ricca Safrotun.
    2. Pengaruh Proses Pemutihan Bebas Klorin Elementer Bertingkat Pd Pulp Eucalyptus (Eucalyptus sp) Terhadap Perubahan Dimensi Serat Serta Kualitas Pulp Dan Kertas.
  3. 3.      Metode Evaluasi
    1. EVALUASI KETERPAKAIAN KOLEKSI BUKU BERDASARKAN DATA    STATISTIK SIRKULASI DI UPTD PERPUSTAKAAN DINAS PENDIDIKAN KOTA MAGELANG.
    2. Evaluasi teknik pemanenan sarang burung wallet (Collocalia spp) di kabupaten Berau (studi kasus di Gua Murni dan Gua Ranggasan). Continue reading

PENYAKIT KARAT TUMOR/KARAT PURU PADA SENGON LAUT (Uromycladium spp.)

PENYAKIT KARAT TUMOR/KARAT PURU PADA SENGON LAUT (Uromycladium  spp.)

A.  PENDAHULUAN

Penyakit  karat tumor /karat puru (gall rust), merupakan salah satu penyakit yang berbahaya pada tanaman sengon laut Paraserianthes falcataria (Miq. Barneby &J.W. Grimes). Dampak penyakit meluas pada semai  sampai  tanaman  dewasa, mulai dari menghambat pertumbuhan sampai mematikan tanaman. Pulau Jawa merupakan salah satu pusat penghasil kayu sengon terbesar di Indonesia. Epidemik penyakit karat tumor/karat puru bias terjadi pada tanaman sengon secara besar-besaran pada tahun mendatang. Hal ini tentu saja akan berpengaruh kuat pada peta pengusahaan tanaman sengon di Jawa serta prospek pengembangan produk berbasis kayu sengon. Oleh karena itu perlu dipikirkan langkah-langkah  terbaik untuk mengendalikan penyakit tersebut.

Adapun langkah-langkah konkrit hanya bisa diambil apabila kita telah mempunyai dasar-dasar pengetahuan tentang penyakit karat tumor/karat puru meliputi:

1.  Penyebab penyakit karat tumor/karat puru, perilaku, serta cara penyebaran maupun siklus    hidupnya.

2.  Gejala dan akibat yang ditimbulkan.

3.  Faktor lingkungan maupun faktor dalam tanaman itu sendiri yang mendukung atau menghambat terjadinya penyakit

Mengingat keberadaan penyakit karat tumor/karat puru terutama di daerah Kabupaten Sleman sudah mencapai tingkat epidemi, maka perlu dilaksanakan penanggulangan secara serius.  Kerjasama aktif antara pemerintah, masyarakat, LSM, peneliti dan pengusaha serta unsur-unsur terkait lainnya sangat diperlukan untuk mendapatkan solusi/hasil yang terbaik Continue reading

Makalah Konservasi Tanah dan Air

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.     Latar Belakang

Indonesia adalah salah satu pusat keragaman hayati terkaya didunia. Di Indonesia terdapat sekitar 25.000 spesies tumbuhan berbunga (10% dari tumbuhan berbunga dunia). Jumlah spesies mamalia adalah 515 (12% dari jumlah mamalia dunia). Selain itu ada 600 spesies reptilia; 1500 spesies burung dan 270 spesies amfibia. Diperkirakan 6.000 spesies tumbuhan dan hewan digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada sekitar 7.000 spesiers ikan air tawar maupun laut merupakan sumber protein utama bagi masyarakat Indonesia (Shiva, 1994).

Keanekargaman hayati Indonesia adalah sumber daya yang penting bagi pembangunan nasional. Sifatnya yang mampu memperbaiki diri merupakan keunggulan utama untuk dapat di manfaatkan secara berkelanjutan. Sejumlah besar sektor perekonomian nasional tergantung secara langsung ataupun tak langsung dengan keanekaragaman flora-fauna, ekosistem alami dan fungsi-fungsi lingkungan yang dihasilkannya. Konservasi keanekaragaman hayati, dengan demikian sangat penting dan menentukan bagi keberlanjutan sektor-sekrtor seperti kehutunan, pertanian, dan perikanan, kesehatan, ilmu pengetahuan, industri dan kepariwisataan, serta sektor-sektor lain yang terkait dengan sektor tersebut.

Konservasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi dan melestarikan keanekaragaman hayati, konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya (Pasal 1 angka 2 UU No.5 Th. 1990)

  1. B.     Tujuan Penulisan
                       Ada beberapa tujuan dari penulisan makalah ini, yaitu :

    1.  Memberi informasi kepada pembaca tentang konservasi dan keanekaragaman hayati
    2. Mengetahui fungsi dan manfaat dari konservasi dan kenekaragaman hayati
    3. Mengetahui faktor-faktor penyebab hilangnya kenekaragaman hayati
    4. Mengetahui pengaruh konservasi terhadap keanekaragaman hayati.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengaruh Konservasi Terhadap Keanekaragaman Hayati

Konservasi adalah suatu upaya yang dilakukan oleh manusia untuk tujuan pelestarian atau perlindungan.  Konservasi tidak hanya ditujukan untuk hutan saja, namun air, energy, udara juga termasuk dalam sasaran utama kegiatan konservasi.  Namun, semua itu bisa dirangkum menjadi satu yaitu sumber daya alam (SDA) , karena air, energy, udara juga merupakan sumber daya alam, ada sumber daya alam dibagi menjadi dua golongan yaitu SDA yang dapat diperbaharui dan ada yang tidak. Continue reading

POHON DAHU

NAMA BOTANIS
Dracontomelon spp, family Anacardiaceae (terutama D. dao Merr. et Rolfe dan D. mangiferum Bl.)

NAMA DAERAH
Dahu, dau, rau, (Jw); basuong, cikuang, dau uding, dau payo, ehoi, jaap, kasai bukit, sengkowang, singkuwang (Smt); dahu, sengkuang, singkuwang, talansep (klm); kaih, kaih laki, layo, rao, rau takau (Slw); kasuang, rau (NTT); kawilu, lakus, ngasobar, rau, sakuan (Mlk); basuong (IJ).

NAMA DI NEGARA LAIN
Sengkuang (Sb); lamis, lupigi, kamarag, batuan, maliyan, makau, habas, burroa (PI); laup (PNG); New Guinea walnut (PNG, UK, USA); Papuanuss (Gm); dao, paldao (Fr,Gm,It,Nl, Pl, Sp, Sw, UK, USA); pacific walnut (UK, USA); noyer de la Nouvelle-Guinee (Fr); senai (It, Nl, Sp, Sw).

DAERAH PENYEBARAN
Seluruh Sumatra, Kalimatan Barat, Kalimantan Timur, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa TImur, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Irian Jaya.

HABITUS
Tinggi pohon sampai 40 m dengan panjang batang bebas cabang 10-25 m, diameter sampai 100 cm, bentuk batang lurus, tinggi banir sampai 3 m. Kulit luar berwarna kelabu-coklat atau coklat-merah, beralur dangkal, sedikit mengelupas.

CIRI UMUM
Warna
Kayu teras berwarna kelabu muda sampai coklat-kelabu dengan garis-garis dan gambar berwarna kelabu tua. Kayu gubal berwarna kuning semu-semu merah jambu dan semu-semu kelabu, lebar 2,5-5 cm.
Tekstur
Tekstur kayu agak kasar atau kasar.
Arah serat
Arah serat lurus sampai berpadu, kadang-kadang bergelombang.
Kesan raba
Permukaan kayu licin.
Kilap
Permukaan kayu mengkilap. Continue reading